oleh: Guntur Akbar
Puisi ini adalah karay Yahya A. S di terjemahkan ke bahasa Arab Oleh Guntur, dan ini di persembahkan buat seluruh ibu yang ada diatas dunia yang telah melahirkan dan meneruskan generasi baru dalam setiap kehidupan didunia...
Peradaban yang agung berada di tangan seorang ibu. Ibu adalah seorang perempuan suci nan agung, dan buat seluruh perempuan salam hormat dari kami yang selalu membuat kalian susah.....
اليك يا امي
والشمس ههنا ما زالت فى المشرق طلعت
جا ءت الليلة و النجوم خرجت
و الظلم فى الليلة إختبئت
والحيوان ما زال يتصوت
و ليس ما فى نفسي وقلبي شعور الشوق
ولن يضيع من بعيد فى أو فر الأشواق
وليست بخضر الجبال و جمال الأشجار لا أشوق
بل إنتظرى واصبرى يا أمي
لا تبغضي ولا تغضبي
إلى حمام صغير فى وسعه
يعيش فى ألف زمان وحضا راته
والشمس سأربطها
على كتفي لك و لنا
ولهديئة الجبال وجما ل الأشجار امام بيتنا
Diterjemahkan oleh: Al – Basmahi
dari karya Y. A Saputra
Anak Berkata Pada Ibunya di Perantauan
Disinipun matahari masih datang dari timur
bintang baru keluar ketika malam
malam tetap membawa gelap
dan satwa masih bersuara
Bukan tak ada perasaan belas rindu
dalam keriduan dari kejauhan
bukan tiada rasa kangen pada hijau
di perbukitan serta rindangnya pepohonan
Tunggu dan sabarlah Ibu
jangan marah dan murka
pada merpati belia yang menerjang
seribu peradaban zaman
kan kuikat matahari
di pundakku untukmu untuk kita
dan untuk permainya bukit
dan pelataran kaya di depan rumah kita
karya Yahya Andi Saputra
( Disadur dari majalah Panji Masyarakat )
Minggu, 10 Januari 2010
Padamu Ibu
Agen dan Perubahan Sosial
Oleh: Nurwakhid
(Ketua KORKOM UIN SUKA 2009-2010)
Disampaikan dalam diskusi PTKM HMI Tarbiyah
Bila kita mengamati perubahan yang terjadi di mana saja, tentunya tidak begitu saja terjadi. Pasti ada yang menggerakkan (agen, sekelompok orang) dan ada permasalahan yang melatarbelakangi atau keadaan kemanusiaan (human condition) dimasa itu. Indentifikasi terhadap persoalan yang sedang dihadapi perlu dilakukan, guna untuk mencari akar persoalan, kemudian dimungkinkan untuk dilakukan kajian lebih dalam lagi mengenai jalan keluarnya yang mesti dilakukan.
Jika dikelompokkan perubahan sosial dapat dilakukan dengan tiga cara mulai dari evolutif (secara alamiah dan lambat), tranformasi sosial (perubahan yang dibawa oleh rakyat) sampai refolusi (cepat dan secara keseluruhan) sekali pun bisa dilakukan, tetapi tergantung seberapa besar kekuatan itu akan mengubah kondisi sosial.
Perubahan secara evolutif dapat kita ambil dari pola kehidupan masyarakat berburu dan meramu. Perubahan yang terjadi sangat lambat sekali, untuk memenuhi kebutuhan penghidupan masyarakat dilakukan dengan berburu, bila alam sudah tidak memberikan mereka makanan, yang dilakukan mencari lahan penghidupan yang baru. Proses perubahan yang terjadi cukup lamban sekali, ini didasari oleh kondisi alam yang berlimpah ruah sebagai sumber penghidupan dan pola pikir masyarakat pada waktu itu. Dan perubahan yang terjadi timbul dari sumber daya alam yang terbatas, bukan atas dasar pemenuhan kebutuhan.
Tranformasi sosial dimulai dari kesadaran rakyat terhadap kondisi yang mereka alami, kemudian terakumulasi menjadi daya penggerak untuk melakukan perubahan. Masyarakat bercocok tanam dapat masuk pada klasifikasi ini. Perubahan masyarakat dari berburu dan meramu ke masyarakat bercocok tanam didasari oleh kebutuhan hidup dan sumber saya alam yang terbatas. Bercocok tanam sebagai jalan untuk memproduksi bahan-bahan makanan dan secara kesadaran pemenuhan kebutuhan manusia tidak terbatas itu dapat diproduksi dengan memanfaatkan alam dan tenaga manusia. Tingginya kebutuhan masyarakat dibandingkan sumber daya alam yang tersedia menjadi agen perubahan dimulai dari kesadaran masyarakat.
Perubahan secara Refolusi dapat kita dilihat di dunia Amerika Latin dan sebagian daerah dikawasan jazirah arab (Iran). Perubahan terhadap sistem dan struktur yang mengatur dan memerintah rakyat seluruhnya dirubah digantikan dengan sistem dan struktur yang baru. misalnya dari kapitalisme ke sosialis, dari teokrasi ke demokrasi dan lain sebagainya.
Lalu dimana kira-kira peran agen atau siapa agen perubahan itu?
Secara khusus Ali Syari’ati mengidentifikasi kelompok orang-orang yang tercerahkan berasal dari golongan orang yang sadar akan “keadaan kemanusiaan” (human condition) di masanya. Kesadaran semacam itu dengan sendirinya akan memberikan rasa tanggungjawab sosial. Pada prinsipnya, kata Syari’ati, tanggungjawab dan peranan orang-orang masa kini yang tercerahkan di dunia ini sama dengan tanggungjawab dan pranan para nabi dan pendiri agama-agama besar – yaitu para pemimpin yang mendorong terwujudnya perubahan-perubahan struktural yang mendasar di masa lampau.
Peran rausanfikr dalam perubahan masyarakat dalam pemikiran Ali Syari’ati, sebangun dengan apa yang pernah dibayangkan oleh Antonio Gramsci tentang intelektual organik. Gramsci memetakan potensi intelektual menjadi dua kategori, yaitu itelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional berkutat pada persoalan yang bersifat otonom dan digerakkan oleh proses produksi, sebaliknya intelektual organik adalah mereka yang memiliki kemampuan sebagai organisator politik yang menyadari identitas dari yang diwakili dan mewakili. Intelektual organik itu, menurut Gramsci, tidak harus mereka yang fasih berbicara dan berpenampilan seorang intelektual, tetapi lebih dari itu, yaitu mereka yang aktif berpartisipasi dalam kehidupan praktis, sebagai pembangun, organisator, penasehat tetap, namun juga unggul dalam semangat matematis yang abstrak. Bagi Syari’ati, rausanfikr adalah kunci pemikirannya karena tidak ada harapan untuk perubahan tanpa peran dari mereka. Mereka adalah agen perubahan sosial yang nyata, karena pilihan jalan mereka adalah meninggalkan menara gading intelektualisme dan turun untuk terlibat dalam problem-problem real masyarakat. Mereka adalah katalis yang meradikalisasi massa yang sedang tidur panjang menuju revolusi melawan penindas. Masyarakat dapat mencapai lompatan kreatifitas yang tinggi menuju perubahan fundamental struktur sosial-politik akibat peran katalis rausanfikr.
Tulisan ini dibuat tanggal 19 november 2009 untuk diskusi HMI Komfak Tarbiyah.
Sumber rujukan:
Ali Syari’ati, Membangun Masa Depan Islam: Pesan Untuk Para Intelektual Muslim, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Mizan, 1998).
Made Pramono, “Melacak Basis Epitemologi Antonio Gramsci”, dalam Listiyono Santoso (ed.), Epitemologi Kiri (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2003).
Roger Simon, Gagasan-Gagasan Politik Gramsci (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Insist, 1999).
MANUSIA DIALOGIS
oleh: Guntur Akbar
(Kader Tarbiyah)
Tulisan dibawah ini adalah ringkasan murni ringkasan dari buku pedagogy of oppressed Paulo Freire, dan ini bertutur tentang bagaimana pendidikan bisa di lewati dengan proses dialog, karena sudah menjadi kodratnya manusia harus di hargai dan tidak bisa dipaksakan menerima seala sesuatunya dengan pemaksaan, dan dialog merupak sebuah proses yang sangat efektif dalam menciptakan hubungan yang dinamis anatr individu memungkinkan unuk terjadinya proses transformasi. Dan seperti tulisan diwah inilah Freire menggambarkan tentang dialog itu.
Jika kita mencoba untuk menganalisa dialog sebagai suatu gejala manusiawi, kita akan menemukan sesuatu yang meruupakan hakekat dari dialog itu sendiri yaitu, kata. Didalam kata kita akan menemukan dua dimensi, refleksi, dan tindakan. Dengan demikian dengan mengucapkan kata sejati adalah mengubah dunia. Bila sebuah kata dihilangkan dimensi tindakannya, dengan, dengan sendirinya refleksi dirugikan dan kata itu menjadi omong kosong menjadi verbalisme. Jika tindakan ditekankan secara berlebihandengan merugikan refleksi, kata itu berubah menjadi aktivisme. Mengada, secara manusiawi, adalah menamai dunia, mengubahnya. Manusia tidak di ciptakan dalam kebisuan tetapi dalam kata, karya, dalam tindakan refleksi. Sementara mengucapkan kata yang benaradalah mengubah dunia, maka dengan mengucapkan kata tersebuat bukanlah hak istemewa sebagian elit manusia, akan tetapi menjadi hak semua manusia yang hidup diatas bumi ini.
Dialog adalahbentuk perjumpaan di antara manusia, dengan perantaraan dunia, dalam rangka mengubah dunia. Dialog dengan demikian merupakan kebutuhan eksistensial. Dialog adalah suatu laku penciptaan dan tidak sebagai sebuah bentuk dominasi seseorang terhadapa orang lain.
Dialog tidak dapat berlangsung, setidaknya dengan tiga hal:
Yang pertama, adalah rasa cinta yang mendalam terhadapa dunia dan terhadap sesama manusia. Dan cinta merupakan dasar bagi dialog itu sendiri, serta dialog itu sendiri. Karena cinta merupakan sebuah laku keberanian, bukan ketakutan, maka cinta adalah pemihakan terhadap orang lain. Tidak perduli dimana kaum tertindas di temukan, maka laku mencintai adalah pemihakan kepada perjuangan mereka, perjuangan bagi pembebasan. Sebagai laku keberanian, cinta tidak boleh menjadi sentimental, sebagai laku kebebasan, ia tidak boleh dijadikan alat memanipulasi. Yang kedua, adalah kerendahan hati.penamaan dunia dimana manusia secara terus menerus menciptakan kembali dunia, dan itu tidak mungkin ada jika ada laku kesombongan. Dialog akan rusak jika para pelakunya tidak memiliki sikap kerendahan hati. Yang ketiga, adalah adanya keyakinan yang mendalam terhadap diri manusia. Keyakinan untuk dapat m,embuat dan membuat kembali, mencipta dan mencipta kembali, keyakinan akan fitrahnya untuk menjadi manusia seutuhnya. Keyakinan terhadap diri manusia adalah prasyarat a priori bagi dialog. Manusia dialogis percaya pada orang lain bahkan sebelum ia bertatap muka dengan orang lain. Manusia dialogis bersifat kritis dan tahu bahwa walaupun dalam dalam diri manusia terdapat kekuatan untuk mengubah dan mencipta, namun dalam suatu kondisi nyata lainnya ia juga sadar bahwa kemampuan itu mungkin saja salah dalam mengunakannya.
Mendasarkan dialog atas cinta, kerndahan hati, dan keyakinan, maka ia akan menjadi sebuah bentuk hubungan horizontal dimana sikap saling mempercayai antara para pelakunya merupakan sebuah konsekuensi yang logis. Dan merupakan kontradiksi dalam manusia jika dialog justru tidak menghasilkan suatu iklim saling mempercayai.
Senin, 14 September 2009
Kembalilah Sebagai Manusia...
Romadhan yang selama ini kita nantikan, kini akan meninggalakan kita. Hanya sebuah roja'yang mendalam agar kita dapat bersua kembali dengan Ramadhan tahun yang akan datang menjadi sebuah hiburan juga sebagai ke khawatiran....
Banyak hal yan telah kita lewati bersama selama satu tahun ini, banyak silap yan telah kita perbuat walaupun berhias canda dan tawa, ada sejara yan telah kita ukir walau di iringi dengan cucuran air mata, dan ada senyum yang selama ini menguatkan kaki kita dalam menempuh jalan ini jalan perjuangan.
Kodrat sebagai seorang yang di ciptakan dengan segala kesempurnaan di banding dengan makhluk yang lain, dan dengan kesempurnaan itu jua kita kadang terlupa bahwa kita sering kali lalai dan berbuat salah. Interaksi dan sosialisasi kita selama ini membuat kita tetap bisa bertahan untuk tetap berjalan walau langkah kadang terseret-seret, dan kita juga tak bisa pungkiri bahwa kita juga kadang telah menggoreskan luka di hati sahabat-sahabat kita...
Intinya adalah sebantar lagi kita akan merayakan ied fitri, dengan harapan kita bisa kembali menjadi manusia yang suci, dan kembali kepada fitroh kita sebagai manusia, yakni sebagai hamba dan juga sebagai kholifah...
Segenap pengurus HMI KOMISARIAT FAKULTAS TARBIYAH MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IED FITRI MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN...
Sabtu, 11 Juli 2009

Term of Reference
SENIOR COURSE KE 80 KORPS PENGADER
HMI CABANG YOGYAKARTA
“Revivalisasi Fitrah Pengader Untuk Progresifitas Gerak HMI”
Landasan Pemikiran
Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang hanif, fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas ciptaan Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(QS. Ar-Rum: 30)
Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu cepat. hampir tidak ada sedikit ruang pun yang luput dari jamahan perkembangan tenologi ini. Alfin Toffler dalam future Shock memberikan gambaran bagaiman pengaruh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia, tatanan sosial, pola kumunikasi dan hampir seluruh aspek kehidupannya. Kehidupan manusia pun berlangsung begitu cepat dan dinamis. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi itu, muncul pula permasalahan manusia yang semakin kompleks.
Kompleksitas permasalahan ini akan bertambah bagi umat Islam. Mereka akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan baru tentang ajarannya, tentang apa yang diyakini selama ini. Hal ini menuntut umat Islam untuk segera merespon berbagai persoalan tersebut dan dengan segera mencari solusi-solusi dari kompleksitas permasalahan tersebut. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah bagian dari uamat Islam ini, dengan demikian HMI juga dituntut untuk melakukan gerak juang yang progresif.
HMI secara sadar telah menentukan pilihannya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan sebagai identitasnya. Sebagai organisasi perkaderan, HMI melakukan pembinaan kepada kadernya melalui sebuah usaha yang terkonsep, sistematis, strategis dan berkesinambungan. Dari pembinaan ini nantinya diharapkan akan lahir sosok ideal atau kader cita HMI yang terkonsepsikan sebagai sosok ulil albab. Kader cita inilah yang kemudian menjadi motir-motir bagi perjuangan HMI, yaitu satu usaha untuk merealisasikan nilai-nilai Islam di alam semesta ini.
Adalah sebuah keniscayaan bagi insan-insan organisasi yang mencirikan dirinya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan ini untuk senantiasa selalu tekun dan bekerja dalam menjalankan amanah yang diembanankan kepadanya. Perkaderan dan perjuangan ibarat dua sisi mata uang yang saling terkait dan tak bisa dipisahkan. Seluruh usaha perkaderan untuk melanggengkan HMI adalah demi perjuangan menggapai tujuan dan begitu juga perjuangan mensyaratkan kokohnya perkaderan. Dinamisasi antara perkaderan dan perjuanganlah satu-satunya motor penggerak bagi organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia ini untuk meraih tujuannya “Terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulul albab yang turut serta bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang dirihoi Allah SWT”. Dari sini nampak bahwa HMI mengedepankan pembinaan dan pengembangan potensi manusia sebagai subjek pembangun peradaban.
Fitrah manusia
Ibnu ‘Arabi sering mengunakan istilah fithrah manusia dengan arti ‘kecondongan dasar ‘. Banyak para musafir yang menafsirkan fitrah manusia adalah ini elem ajaran agama yaitu iman kepada Allah atau Tauhid. Menurut Ibnu ‘Arabi, kecondongan primordial manusia tersebut dilengkapi dengan sejumlah sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh ruh manusia pada saat penciptaannya. (William C. Chittick : 2001). Selain itu, manusia juga dibekali dengan perangkat diri berupa jasad, akal dan ruh. Manusia akan tetap pada kesempurnaannya ketika ketiga elemen tersebut berkembang dan berjalan secara sinergis.
Dengan kesempurnaan yang dimiliki tersebut, manusia mengemban tanggung jawab yang besar. Selain sebagai abdi, manusia juga memiliki peran sebagai khalifah di mika bumi ini, satu amanah yang tidak bisa ditanggung oleh makhluk selainnya. Tanggungjawab. sebagai abdi manusia dituntut totalitas peribadahannya kepada-Nya, sedangkan sebagai khalifah manusia bertanggungjawab memakmurkan bumi ini.
Sebagai makhluk, perkembangan manusia ditentukan oleh potensi-potensi yang dibawa dan pengaruh-pengaruh lingkungan.dan seringkali kecondongan-kecondongan dasar manusia tersebut diselimuti oleh kabut lingkungannya. Untuk itu, yang diperukan adalah Usaha-usaha itu adalah untuk mengingatkan kembali manusia pada fitrahnya, menyibak kabut-kabut yang menutupi fitrah tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pembinaan yang tersistematis dan berkesinambungan. Di HMI, hal ini disebut sebagai perkaderan.
Fitrah Pengader
Dalam sistem perkaderan, setidaknya terdapat dua subjek penting di sana, kader dan pengader. Kader secara umum adalah orang yang dididik untuk melanjutkan estefet suatu organisasi. Sementara kader HMI adalah anggota HMI yang telah mengikuti model perkaderan organisasi secara menyeluruh dan optimal, sehingga memiliki integritas pribadi yang utuh, beriman, berilmu dan beramal shaleh yang siap mengemban tugas dan amanah keumatan. Lahirnya kader ideal sangat ditentukan oleh sistem yang ada dan juga pengader yang berkualitas. Pengader adalah orang yang melakukan pembinaan secara intens. Dia adalah sosok dengan kepribadian utuh sebagai pendidik, pemimpin dan pejuang. Itulah fitrah pengader. Itu pula adalah sibghah atau blue print sosok pengader.
Sebagai pendidik, pengader HMI adalah pembawa dan penjaga nilai-nilai Islam. Sebagai pendidik, pengader HMI haruslah memahami bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan secara sitematis untuk mengembangkan potensi peserta didik. Tujuannya adalah lahirnya manusia paripurna yang memiliki keimanan, akhlak mulia, dan ilmu pengetahuan. Untuk itu, pengader HMI harus memiliki kemampuan metodologi, strategi dan operasional dalam pendidikan. Selain itu, dia juga harus bisa memahami subjek didiknya, meletakkannya sebagai manusia yang sadar dan membawa potensi kebaikan. Yang paling utama bagi seorang pendidik adalah dia bisa menjadi tauladan (uswatun hasanah) bagi subjek didiknya. Pendidik adalah integritas kepribadian antara iman, ilmu dan amal.
Sebagai pemimpin, pengader HMI merupakan penjaga ukhuwah islamiyah. Dan sebagai pejuang, dia merupakan pelopor dalam amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menyerukan kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran serta melarang dari perbuatan yang merusak dan prilaku-prilaku yang akan menghadirkan murka Allah. Sebagai pejuang, dia adalah mujahid, orang yang mengerahkan seluruh daya dan kemampuannya, baik secara aqliyah, fikriyah maupun jasadiyah. Sebagai mujahid, dia mengetahui benar konsekwensi dari jalan juang yang ditemupuhnya. Dia adalah sosok yang mempunyai kesadaran idiologis dan mampu mengungkapkan segala apa yang dia yakini secara lisan maupun perbuatan. Al-Quran juga menyatakan bahwa kehidupan ini adalah media perjuangan bagi manusia untuk mencapai kehidupan yang sempurna dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, manusia harus bersiap pula untuk berkorban, tidak saja harta benda, tetapi juga nyawa sekalipun.
“Konsekuensi dari tiga sosok potensi yang padu, yakni pendidik, pemimpin dan pejuang, maka pengader adalah insan yang memiliki kesadaran ideologis yang tinggi, ikhlas berjihad di jalan Allah SWT, istiqomah, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang relefan dengan tugasnya sebagai pengelola latihan HMI”. (Muqodimah Pedoman Pengader). Dari sinilah, HMI akan melakukan gerak juang yang progresif. Dan Senior Course ke 80 ini diharapkan mampu menjadi langkah awal untuk melakukan gerak tersebut.
Syarat-syarat mengikuti SC
a. Lulus LK II
b. Membuat Makalah sesuai tema min. 3 Lembar kertas kuarto Time New Romans spasi 1,5
c. Membuat out line (pointer-pointer) khittah perjuangan
d. Hafalan surat Adh-dhuha sampai An-Nas ditamabah Al-‘ala, Al-Ghasyiyah dan As-shof
e. Mengikuti seleksi yang meliputi: ke-Islaman, Ke-HMI-an, makalah dan Micro Teaching.
f. Menyerahkan past poto 3x4 sebanyak 2 Lembar.
g. Membayar kontribusi sebesar Rp. 75.000,00 dan pendaftaran Rp. 5.000,00 dengan fasiliatas Kaos, stiker, buku dan CD hasil pelatihan.
Pendaftaran
Pendaftaran melalui SMS: REG (spasi) NAMA (spasi) KOMISARIAT dikirim ke No. 085959070782 an. Fauzan S, atau ke No. 0274 6567900 An. HMI Cab, Yogyakarta Maksimal tanggal 19 Juli 2009
Tes Seleksi
Tes seleksi peserta pada 20-22 Juli 2009 & Pembekalan tgl 24 Juli 2009 di HMI Cabang. Yogyakarta
Selasa, 30 Juni 2009
Komisariat Fakultas Tarbiyah Mengadakan SC 80
HMI KOMISARIAT FAKULTAS TARBIYAH
UIN SUNAN KALIJAGA YOKYAKARTA
MENGADAKAN SENIOR COURSE ( SC ) 80
HMI Komisariat Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga dipercaya untuk menjadi panitia pelaksan Senior Course (SC) 80 oleh KPC dan HMI Cabang Yogyakarta, dengan permintaan tersebut kemudian pengurus mengadakan Rapat Presidium untuk memutuskan kesedian menjadi panitia pelaksan. Akhirnya setelah mengadakan rapat presidium pada tanggal 17 Juni 2009, pra pengurus bersepakat untuk menerima kepercayaan tersebut yang kemudian ditindak lanjuti dengan pembuatan Sk panitia dan pengajuan proposal kepada Korp pengader Cabang. Presentasi Proposal dengan tema “ Meningkatkan Kesadaran, profesionalitas, dan Tanggung Jawab Pengader Upaya Mewujudkan Perkaderan Umat” di presentasikan dihadapan team perumus SC 80 di laksanakan pada tanggal 28 Juni 2009 bertempat di secretariat HMI Cabang Yogyakarta. Presentasi proposal di Hadiri oleh ketua komisariat, perwakilan SC dan OC Panitia Pelksana.
Setelah proposal di presentasikan dan kemudian di godok kembali oleh team perumus maka tema SC 80 ini kemudi di Sempurnakan menjadi “ Revivalisasi Fitrah Pengader Untuk Progresifitas Gerak HMI”. Harapannya dengan tema ini kemudian bisa melahirkan pengader pengader yang bisa membawa HMI kedepan menjadi lebih baik.
SC yang ke 80 ini akan dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2009 bertempat di Minomartani, Kalasan, Sleman. Harapannya dengan diadakannya SC ini perkaderan yang ada di HMI Cabang Yogya khususnya menjadi lebih baik dan HMI di Indonesia secara keseluruhan. Dan kita selaku pelaksan meminta dukungan dari berbagai pihak untuk dapat mensukseskan acara ini secara bersama sama.
Kepada teman teman HMI di Indonesia yang telah lulus LK II dan berniat untuk mengikuti SC ini silahkan mendaftar ke Panitia dengan datang ke sekretariat:
Karangkajen MG III/966 Yogyakarta. Call SMS Center 0274-6567900
wisma Marakom jl. Tri Dharma No. 354 Gendeng Baciro Yogyakarta. Call SMS Center: 085959070782.
Jumat, 19 Juni 2009
Salam Perjuangan
Assalamu'alaikum warahmatullah Wabarakatuh.
Puji syukur pada Allah SWT yang telah memberikan nikmat pada kita semua, Sholawat dan Salam pada junjungan besar Nabi Agung Muhammad SAW, beserta Ahlul Bait, para imam, para wali, dan semua pengikutnya sampai akhir zaman.
HMI Komisariat Fakultas Tarbiyah UIN SUKA adalah salah satu komisariat yang tertua di UIN, dengan asumsi yang tua adalah yang berpengalaman maka KOMFAK Tarbiyah hendaklah menjai contoh yang baik bagi komisariat yang lain. beberapa agenda yang telah diusung oleh bidang-bidang yang ada di kepengurusan telah dilaksanakan dengan baik walau ada kekurangan. adapun agenda-agenda yangtelah dilaksanakan adalah sebagai berikut.
Komisariat tarbiyah dalam menjalankan roda kepengurusannya di bantu dengan beberapa bidang yang telah dibentuk, yaitu : Bid. Perkaderan, Bid. Kajian Wacana & Peradaban (KWP), Bid. Perguruan Tinggi & Kemahasiswaan (PTK), Bid. Pers, dan Bid. Sosial Masyarakat (SOSMAS).